Indonesia Jaya

“Gw ga nyangka kalau lo tu nasionalis banget ya qeis.”

 

Kira-kira itulah celotehan salah satu temen gw ketika kita sedang curhat mengenai tesis dan berdiskusi mengenai mimpi dan harapan pasca lulus s2. Kadang gw bertanya, kenapa gw bisa sampai sebegitu inginnya mengabdikan diri gw untuk bangsa… Setiap gw mendengar lagu-lagu nasionalis, baik itu lagu perjuangan ataupun lagu mengenai kebanggaan terhadap Indonesia, gw selalu merasa trenyuh dan terharu. Setiap gw mendengar lagu tersebut dimainkan, gw benar-benar merasa bangga menjadi bangsa Indonesia, bersyukur kepada seluruh masyarakat dan tokoh penggerak kemerdekaan yang telah begitu gigih memperjuangkan apa yang kita sebut sebagai tanah air Indonesia sekarang ini. Begitu hormat dan bersyukurnya gw atas perjuangan mereka, gw kadang merasa sedih dan kesal ketika melihat berita-berita mengenai tokoh-tokoh yang merugikan bangsa, kelompok-kelompok yang menginginkan perpecahan, bahkan ide-ide baru yang ingin mengubah arah pemerintahan dan mengancam kedaulatan NKRI. Mungkin ini yang membuat salah satu temen gw kembali berceloteh, “Buat gw yang udah sangat Europe minded gini, gw heran dan agak kagum juga lo masih punya rasa nasionalisme sekuat itu.” Namun justru, semakin gw mempelajari mengenai Uni Eropa di S2 gw, semakin besar kecintaan dan kebanggaan gw terhadap Indonesia.

Pertama mendengar motto “United in Diversity”, motto dari Uni Eropa yang dipropagandakan sebagai semangat yang memperlihatkan bagaimana untuk pertama kalinya di dunia, negara-negara yang berbeda kebudayaan dapat bersatu untuk mencapai kedamaian dan kesejahteraan bersama, tanpa melupakan kemajemukan budaya yang begitu kaya dari masing-masing negara Eropa, I’m just like, sounds like Indonesia much? Bhinneka Tunggal Ika, seharusnya kita menyadari bahwa spirit tersebutlah yang menjadikan Indonesia sebagai Indonesia. Sebuah entitas supranasionalis yang terdiri dari kerajaan-kerajaan nusantara dimana perbedaan dihormati dan kehidupan antar budaya melebur menjadi satu identitas yang disepakati secara bersama dibangun atas semangat “United in Diversity”. Sesuatu yang diperkuat dan melebur menjadi identitas kebangsaan dan membentuk entitas negara “Indonesia” berkat jasa Sumpah Pemuda. Begitu terharunya gw dengan konsep Sumpah Pemuda sehingga gw bertekad untuk ingin ikut serta dalam menjaga kemajemukan dan persatuan Indonesia, bertekad untuk membagi rasa haru dan bangga menjadi bagian dari sebuah bangsa dengan konsep yang sangat maju melebihi pemahaman pada masanya mengenai multikulturalisme dan semangat persatuan dalam perbedaan. Disinilah gw merasa beruntung sekali mendapatkan kehormatan untuk mengabdi kepada bangsa sebagai dosen pengajar mata kuliah desain dan kebudayaan dimana gw bisa menanamkan kecintaan terhadap Indonesia kepada mahasiswa gw melalui kajian produk budaya Indonesia, baik tradisional, modern, maupun populer, dan menyisipkan pesan-pesan cinta bangsa ke dalamnya. Kembali mengingatkan generasi muda rasa kagum akan konsep keIndonesiaan yang diperjuangkan oleh para pendahulu kita dan rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia yang majemuk.

Menghadapi Pilpres 2014 ini, gw begitu seramnya, begitu takutnya akan terjadinya perpecahan di kalangan masyarakat Indonesia. Begitu fanatiknya masyarakat kepada masing-masing calon presiden yang diusung dan begitu sengitnya perdebatan di media-media sosial membuat gw membayangkan the worst case scenario yaitu byproducts berupa hilangnya penghormatan atas kemajemukan dan pemaksaan akan kesamaan. Melihat kampanye salah satu pilpres dengan mottonya yang begitu fenomenal membuat gw merasa seakan-akan kemajemukan kehidupan kebangsaan Indonesia sedang dipangkas menjadi bentuk simple dari oposisi biner. Suatu bentuk dekonstruksi identitas yang membagi masyarakat Indonesia menjadi “benar” dan “di luar itu”. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan semangat kemajemukan yang, seharusnya, diusung dalam pemilu dalam bentuk slogan “Langsung, Umum, Bebas, Rahasia”.

Semangat persatuan dalam kemajemukan demi tercapainya perdamaian dan kesejahteraan bersama dapat terasa dalam lirik lagu Indonesia Jaya, terutama bagian “Berpegangan tangan, satu dalam cita. Demi masa depan Indonesia Jaya.” Suatu cita-cita luhur yang, sayangnya, mulai terdekonstruksi menjadi “demi masa depan di bawah kepemimpinan si …” Gw hanya bisa berharap dan berdoa,  siapapun presiden yang terpilih nanti, apakah itu Prabowo maupun Jokowi, PR besar baginya yang pertama adalah merangkul seluruh warga Indonesia untuk tetap bersatu dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Siapapun yang terpilih harus mampu untuk meredam suara-suara yang mengatas namakan rakyat, suara-suara yang mempengaruhi opini publik yang dapat mengancam keutuhan dan kohesi masyarakat Indonesia yang majemuk. Mengembalikan lagi semangat-semangat dan keharuan bangga akan persatuan dalam kemajemukan di bawah bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia demi mencapai cita-cita luhur bangsa, Indonesia Jaya.

 

“Ciptakanlah kerukunan bangsa. Kobarkanlah dalam dada semangat jiwa Pancasila”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s